Thursday, March 11, 2010

The Great Team MITI-Mahasiswa 2010

SUSUNAN PENGURUS MITI-MAHASISWA 2010

Presiden: Haryandi, ST (UGM)
Sekjend: Dina Norsholati, S.IP (UNDIP)
Tim Sekjend:
  1. Khusnul Khotimah (UNY)
  2. Heninggar Septiantri (UI)

Bidang Fundraising
Kepala Bidang: Imam Setyo Hartanto (UGM)
Tim Fundraising:
  1. Fuadi Chandra (UNAND)
  2. Bakti Susilo Putro (UNDIP)
  3. Panji Arohman (UGM)

Bidang PSDM
Kepala Bidang: M. Rezki Hermansyah (UGM)
Tim PSDM:
  1. Rahman (UNMUL)
  2. Muhammad Halim Maimun (UMS)
  3. Pariman (UNDIP)
  4. Fathiah (UNAND)
  5. Ni Wayan Primanovenda (UGM)

Bidang  Riset
Kepala Bidang: Titisari Dian Pertiwi, S.Pi (UNDIP)
Tim Riset:
  1. Hadi Teguh Yudhistira, ST (KKU)
  2. Muhammad Khoiron Ferdiansyah (UB)
  3. Eksa Rusdiyana (UNS)
  4. Tri Hanifa (UIN SuKa)
  5. Sumayah (UNDIP)

Bidang HAL
Kepala Bidang: Chifrul Saechudin, ST (ITS)
Tim HAL:
  1. Andrie Javs (UGM)
  2. Fikrie El Mujahid (UNDIP)
  3. Fitri Rahayu (UMS)
  4. Amrullah Rangkuti (UNSRI)
  5. Yuli Nurulaili Efendi (UGM)
  6. Dian Septiandani (UNDIP)

Bidang HLN
Kepala Bidang: Ihsan Iswaldi, M.Si (UNAND, Domisili: Cordoba, Spanyol)
Tim HLN:
  1. Priyanto Hidayatullah, ST (ITB, Domilisi: Perancis)
  2. Ratih Fitria Putri(Domisili: Jepang)
  3. Neni Fidya Santi (UGM)
  4. Retno Widiastuti (UI)

Bidang Comdev
Kepala Bidang: Yuda Achdiani, S.KM (UNDIP)
Tim Comdev:
  1. Asep Muhammad Samsudin (UNDIP)
  2. Adhita Sri Praba Kusuma (UGM)
  3. Fajri Ariefiyanto (ITB)
  4. Ana (UNSRI)
  5. Adi Surya (UNSOED)
  6. Saefudin (IPB)

Bidang Binwil
Kepala Bidang: Emiliana Tri Sugiharti, S.KG (UGM)

Korwil Jadiy: Eko Novianto, A.Md (UNDIP)
Staf Ahli:
  1. Rini Yulianti (UNS)
  2. Ummi Syarifah
Korwil Jabaja: Fikri Amrullah Rivai (UNPAD)
Staf Ahli:
  1. Sofa Abdul Muiin Multazam (UIN SGD)
  2. Donnie Aqsha (IPB)
  3. Retno Pratriningrum, S.Pd
Korwil Jabalnusra: Nanang M. (UNAIR)
Staf Ahli:
  1. Henik Sri Astutik (UNESA)
  2. Frebria Azilda (UB)
Korwil Kalsul: Irwan Muhammad Zain (UNHAS)
Staf Ahli:
  1. Erni Arifah Ismail
  2. Margettya Ningsih, ST
Korwil Sumatera: IBP Angga Antagia, SE (UGM)
Staf Ahli:
  1. Herman Siregar, S.Pd (UNIMED)
  2. Rilla Martaleta, SE (UNAND)
  3. Arnelia Putri (UNILA)
READ MORE - The Great Team MITI-Mahasiswa 2010

Beasiswa S2 LN-Depkominfo

PROGRAM BEASISWA S2 LUAR NEGERI KEMENTERIAN KOMINFO TAHUN 2010

Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Tahun 2010 kembali membuka kesempatan dan menyediakan beasiswa pendidikan S2 di luar negeri bagi PNS di lingkungan lembaga pemerintah, karyawan/karyawati di lembaga pendidikan dan industri Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK), serta masyarakat umum.

Persyaratan :
  1. Lulusan sarjana (S1)
  2. Memiliki IPK minimal 3.00 (dari skala 4)
  3. Memiliki nilai Institutional TOEFL (ITP) minimal 550 atau IELTS minimal 6.5
  4. Memiliki nilai Tes Potensi Akademik (TPA) minimal 550
  5. Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang
  6. Diutamakan:
    1. Memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun
    2. Berusia maksimal 35 tahun
    3. Belum memiliki gelar dan tidak sedang menerima beasiswa lain dan/atau sedang mengikuti program pendidikan S2
  7. Pendaftaran dan penyerahan berkas lamaran beasiswa paling lambat tanggal 5 April 201
Informasi persyaratan dan formulir pendaftaran dapat di download di website Depkominfo
READ MORE - Beasiswa S2 LN-Depkominfo

Thursday, March 04, 2010

Islam dan Ilmu Pengetahuan

Dalam diskursus ilmu pengetahuan kontemporer, penjelasan agama terhadap fenomena kehidupan seringkali terabaikan, bahkan tertolak. Agama menjadi sesuatu yang musykil untuk dijadikan landasan argumentatif dalam telaah dinamika struktur dan sistem kehidupan. Sepertinya, terdapat jurang pemisah antara agama dan ilmu pengetahuan yang tak mungkin dipertemukan.

Kondisi tersebut merupakan fakta yang terjadi dalam aktivisme intelektual saat ini. Bukan tanpa alasan, penolakan terhadap agama dalam diskursus ilmu pengetahuan ini memiliki akar sejarah yang panjang, tepatnya pada masa pra-renaisance. Pada periode tersebut, agama (Kristen) merupakan satu-satunya kekuatan dominan yang menghegemoni kehidupan di Eropa (Husaini, 2005). Interpretasi atas realita, mutlak berada di tangan Gereja sebagai institusi otoritatif atas tamsil-tamsil kebenaran Tuhan. Gereja membawa pengetahuan ke dalam domain keimanan dan menjadi bagian dari doktrin agama. Sebuah bentuk kooptasi terhadap kebebasan intelektual.

Relasi kekuasaan pun berubah, otoritas agama tumbang di Eropa. Evolusi pemikiran yang sebelumnya berada dalam keterkungkungan Gereja, telah membawa pada suatu revolusi kehidupan, enlightment. Perubahan ini tidak hanya menciptakan kehidupan baru di dalam alam kebebasan berfikir, namun juga terus membawa dendam historis ilmu pengetahuan atas agama. Hasilnya, agama dijauhkan dari aktivitas keilmuan.

Revolusi ilmu pengetahuan ini telah berhasil membawa Eropa dari ‘Masa Kegelapan’ menuju ‘Era Pencerahan’. Eropa dengan fondasi ilmu pengetahuan pasca-renaisance, telah mengkultuskan diri sebagai pusat peradaban dunia. Pengalaman atas dominasi hegemonik Gereja telah membawa aktor intelektual Eropa untuk membangun ilmu pengetahuan yang resisten terhadap agama. Pemahaman ini terus disebarkan ke seluruh penjuru bumi sebagai upaya pencerahan dunia. Memisahkan agama dalam ilmu pengetahuan menjadi mutlak diperlukan, untuk membangun kejayaan dalam tatanan kehidupan. Karenanya, ilmu pengetahuan haruslah bebas nilai (value free), jauh dari nilai agama.

Hingga kini, paradigma bebas nilai terus menjiwai setiap aktifitas keilmuan. Perspektif atas analisa permasalahan kehidupan, saat ini, hanya disandarkan pada kekuatan akal melalui kapasitas rasionalnya. Nalar ‘dipaksa’ untuk mengkonstruksikan seluruh definisi yang ada dalam fenomena alam dan sosial. Logika rasional menjadi doktrin tersendiri untuk mendefinisikan fakta kehidupan yang tak terbantahkan. Walhasil, ilmu pengetahuan menggantikan peran agama, dan mengklaim diri sebagai pemegang otoritas kebenaran secara mutlak. Dialektika pencarian kebenaran ini telah menghasilkan polarisasi antara ilmu pengetahuan dan agama secara ekstrim.


Perspektif Islam atas Ilmu

Paradigma keilmuan tersebut (baca: paradigma Barat) tentunya sangat berbeda dengan perspektif Islam tentang ilmu pengetahuan. Islam tidak memandang ilmu pengetahuan sebagai musuh keimanan atas konsep kepercayaan terhadap tuhan, Allah SWT. Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan merupakan instrumen yang ditujukan untuk memperkokoh keimanan itu sendiri. Sebaliknya, Islam justru menuntut ummatnya untuk menguasai pengetahuan dalam banyak tantangan retoris al-Qur’an, tidakkah kamu melihat, tidakkah kamu perhatikan, tidakkah kamu mengetahui, tidakkah kamu berfikir.

Islam memandang bahwa pada hakikatnya relasi akal dan iman dalam dialektika ilmu merupakan hubungan yang bersifat komplementer. Artinya, kapasitas keilmuan seseorang menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan derajat keimanan. Ilmu dan iman bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, tapi dipadukan untuk membangun fondasi tauhid, untuk menciptakan sebuah harmoni kehidupan sebagai wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Hal inilah yang terjadi pada masa kejayaan Islam terdahulu. Ilmu dan iman mampu membangun kombinasi yang khas hingga menciptakan suatu capaian peradaban yang tak terkira. Tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam bahwa, agama melakukan kooptasi terhadap ilmu pengetahuan dan kapasitas nalar, hanya karena produk ilmu pengetahuan tersebut berbeda dengan dalil wahyu. Yang terjadi malah sebaliknya, ilmu melalui logika eksperimental akal, membuktikan kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh wahyu. Dengan demikian, Islam tidaklah membuat sebuah segregrasi yang radikal antara kapasitas akal dengan otoritas wahyu.

Relasi ilmu pengetahuan antara akal dan wahyu ini dikarenakan Islam mendiferensiasikan sumber ilmu ke dalam dua kategori, yaitu sumber kauliyah dan sumber kauniyah melalui suatu proses dialektis (Yahya, 2003). Sumber kauliyah merupakan pengetahuan hakiki yang dibawa oleh al-Qur’an dengan kapasitasnya sebagai pedoman hidup manusia. Dengan demikian, al-Qur’an menjadi sumber pengetahuan mendasar bagi manusia. Sementara, sumber kauniyah merupakan pengetahuan karya eksperimental yang diperoleh manusia melalui proses berfikir dengan menggunakan akal. Pencarian pengetahuan dalam Islam tidak dapat berjalan sendiri-sendiri antara akal dan wahyu, melainkan proses mencari jawaban pengetahuan dalam koridor keimanan, sebagaimana kalam ilahi pertama kali yang turun, bacalah dengan menyebut nama Rabbmu.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menyatakan bahwa proses berfikir dalam menemukan pengetahuan merupakan tututan bagi manusia, dan inilah yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang tidak mengetahui apa-apa mengenai sekelilingnya, hingga akhirnya Allah SWT memberikan pengetahuan pada manusia melalui proses berfikir. Berfikir merupakan proses penerjemahan bayang-bayang di balik perasaan, dan aplikasi akal untuk membuat analisa dan sintesa. Dalam proses ini, akal memiliki peranan yang sangat signifikan untuk mendapatkan pemahaman pengetahuan tersebut melalui penafsiran bayang-bayang kauniyah dan sumber kauliyah.

Kerangka berfikir yang dibangun dalam konsep ilmu dalam Islam merupakan sebuah upaya mengungkap pengetahuan dalam rangka mengagungkan kebesaran Allah SWT. Karenanya, sekalipun mendapatkan hasil temuan yang berbeda antara sumber kauliyah dan kauniyah, maka itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menegasikan salah satu sumber, terlebih untuk menegasikan ayat-ayat kauliyah. Temuan ayat kauniyah bersifat relatif dan sementara. Ketika temuan kauniyah berbeda dengan tesis kauliyah, maka tidak bisa disimpulkan bahwa salah satu dari keduanya salah. Sebenarnya dalam proses tersebut, penafsiran atas fenomena kauniyah itu tengah berada dalam proses menuju kebenaran kauliyah hingga ditemukan titik temu antara kedua preposisi sumber ilmu pengetahuan ini.

Islam memiliki fokus yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Perpaduan antara dua sumber pengetahuan ini berikut proses pencariannya inilah yang kemudian membangun dasar-dasar keilmuan dalam Islam. Yusuf Qaradhawi (2002) menyatakan bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan menjadi sangat penting untuk dimiliki sebelum melakukan suatu tindakan. Hal ini dikarenakan bahwa dari pilar-pilar keilmuan Islam tersebut, kemudian akan menjadi dasar bagi pembangunan peradaban Islam.

Namun, kondisi ideal ilmu pengetahuan dan Islam sangat jauh dari kenyataan. Saat ini, ilmu pengetahuan tengah‘dijauhkan’ dirinya dari dari sentuhan Islam sebagaimana dalam konsep ilmu pengetahuan kontemporer. Pada saat yang bersamaan, ummat Islam pun jauh dari ilmu pengetahuan dan lekat dengan kebodohan. Revitalisasi keilmuan Islam bukan sekedar membangkitkan kapasitas intelektual kaum cendikia muslim semata. Lebih jauh dari itu, langkah tersebut merupakan sebuah upaya merealisasikan komitmen pada kebenaran.

Membangun paradigma keilmuan Islam merupakan upaya pembangunan sinergi antara kapasitas akal dan iman. Melakukan pembuktian atas kebenaran iman melalui interpretasi akal atas fenomena kehidupan. Hal ini tentunya menjadi tugas generasi muslim saat ini untuk mengembalikan era Tamadun Islam. Membangun kembali peradaban dunia yang baru, dengan ilmu pengetahuan dan Islam.

Ditulis oleh Hudzaifah Hanum, Cendekiawan Muslim
READ MORE - Islam dan Ilmu Pengetahuan

Wednesday, January 27, 2010

Sartatama MITI di Bernas


READ MORE - Sartatama MITI di Bernas

Monday, January 18, 2010

Sarasehan Petani, Pemerintah, dan Mahasiswa 2010


Sektor pertanian domestik memegang peranan vital dalam pembangunan nasional. Peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kedaulatan pangan, sosial dan ekonomi, serta konstelasi politik di Indonesia. Hal ini yang menjadi latar belakang diarahkannya sasaran pertama agenda riset nasional 2004-2009 pada bidang ketahanan pangan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian tersebut, maka diperlukan strategi intensifikasi maupun ekstensifikasi. Mengingat, luasan areal lahan di Jawa semakin terbatas, sehingga langkah yang lebih tepat dilakukan adalah dengan metode intensifikasi. Salah satu unsur terpenting dalam intensifikasi pertanian adalah faktor pupuk dan pemupukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah. Pada saat ini, peningkatan kualitas kesehatan dan kesuburan tanah tersebut diarahkan ke aplikasi pupuk organik.
Kesiapan masyarakat untuk melakukan alih teknologi dari aplikasi pupuk kimia sintetik ke pupuk organik belum dapat terwujud dengan sempurna. Teknologi produksi dan aplikasi pupuk organik tersebut juga belum dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat pedesaan. Selain itu, pemasaran pupuk organik lokal masih harus bersaing dengan pemasaran pupuk kimia sintetik dan pupuk organik buatan industri besar yang disubsidi pemerintah. Hal ini menyebabkan akselerasi progresifitas produksi dan aplikasi pupuk organik lokal masih lambat. Produksi pupuk organik lokal tersebut sebenarnya juga dapat menjadi alternatif perluasan lapangan pekerjaan di desa, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.
Merespon fenomena di atas, Departemen Community Development Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Divisi Mahasiswa yang bekerja sama dengan Kelompok Perikanan dan Pertanian “Mina Sejahtera”, Plaosan, menyelenggarakan agenda Sarasehan Petani – Pemerintah – Mahasiswa (Sartatama) pada tanggal 15 Januari 2010. Kegiatan ini dimaksudkan agar terjalin hubungan dan komunikasi interaktif antara berbagai elemen penggerak pembangunan nasional, sehingga akan terwujud suatu kerja sama yang sinergis. Sarasehan tersebut lebih diarahkan pada perbincangan mengenai deseminasi teknologi pertanian tepat guna, khususnya teknologi pembuatan pupuk organik. Di samping itu, juga pembahasan tentang strategi pengembangan bisnis masyarakat.
Sartatama yang bertajuk “Inovasi Teknologi untuk Kesejahteraan Masyarakat“ ini, dibuka oleh Camat Minggir dan Lurah Sendang Rejo. Pada saat acara berlangsung diadakan pula pameran galeri foto dan produk-produk olahan limbah organik menjadi pupuk organik. Pameran galeri foto dan produk-produk pupuk organik tersebut ditujukan untuk menunjukkan inovasi dan usaha yang telah dilakukan masyarakat dalam mengembangkan pupuk organik, menyampaikan secara visual kreativitas masyarakat berbasis aplikasi teknologi tepat guna, mensosialisasikan aplikasi Bioaktivator Good Bacteria-1 (GB-1) untuk pembuatan pupuk organik, dan juga sebagai bahan diskusi dengan pemerintah pusat.
Sartatama ini diikuti oleh seluruh anggota kelompok pertanian dan perikanan se-dusun Plaosan, Sendang Rejo dan juga segenap elemen mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Adapun elemen mahasiswa UGM yang berpartisipasi aktif antara lain Kelompok Studi Fakultas Pertanian “Klinik Agro-mina Bahari” (KAB), Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) UGM, dan Ikatan Mahasiswa Muslim Madani (IM3). Total peserta yang datang kurang lebih 100 orang.



Elemen petani, pemerintah, dan mahasiswa berupaya melakukan sinergisitas dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Acara Sartatama ini dimulai dengan pameran galeri foto dan produk-produk pupuk organik. Berikutnya, dilanjutkan dengan Sarasehan petani bersama Staf Ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi (MENEGRISTEK), ilmuwan dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), peneliti dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), serta mahasiswa UGM.
Masyarakat petani sangat antusias dalam menikmati sarasehan tersebut. Hal ini diindikasikan dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan masyarakat mengenai informasi teknologi serta kebijakan nasional yang disampaikan oleh Pemerintah Pusat tersebut. Pada akhir acara ini diberikan juga tanda kenang-kenangan dari MITI-Mahasiswa dan penyerahan bantuan tunai untuk penguatan modal usaha. Penguatan modal usaha tersebut rencananya akan dipergunakan untuk mendanai pembuatan alat pencacah sampah organik. Melalui Sartatama ini diharapkan dapat menambah pemahaman petani tentang teknologi dan dapat membantu meningkatkan harkat kesejahteraan masyarakat.


READ MORE - Sarasehan Petani, Pemerintah, dan Mahasiswa 2010

Tulisan Terbaru

Komentar Pembaca

Orang yang kritis akan merespon apa yang telah dibacanya..sudahkah anda merespon artikel di miti...?

Arsip Artikel

Update Artikel MITI via Email Gratis

Untuk update Artikel cerdas, cukup masukkan email anda disini:

Delivered by FeedBurner